Kamis, 10 Desember 2009

05 Desember 2009


5 Desember 2009

Suamiku…
Maha Suci Alloh SWT yang telah mempertemukan kita, menyatukan kita dalam cinta dan kasih sayang-Nya. Puji dan syukur tertinggi, kita telah melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah, menyempurnakan separuh agama ini.

Suamiku…
Hari ini 5 Desember 2009, kiranya engkaulah yang menjadi qiyadah dalam hidupku. Engkaulah yang akan membimbing setiap kelemahanku, mengisi kekosongan dan menambah kekurangan-kekurangan yang kumiliki dengan ilmu, nasehat dan cinta. Jadilah pemimpin yang senantiasa memimpin aku dalam ketaatan kepada Alloh dan memimpinku meneladani kemuliaan sang pemimpin agung Rasulullah SAW.

Suamiku…
Hari ini 5 Desember 2009 aku telah menjadi istrimu. Yang akan mengarungi bahtera kehidupan bersama mu. Aku mungkin tak seindah bidadari impianmu, aku baru belajar menjadi bidadari, bidadari dunia. Maka bantulah aku menjadi istri yang shalihah, yang jika kau pandang maka engkau makin cinta, jika kau pergi aku sanggup menjaga kehormatan dan hartamu hingga kau merasa tenang karenanya. Seorang istri yang mampu mengurus rumahnya & mendidik anak-anak yang sholeh.

Suamiku…
Hari ini 5 Desember 2009, aku telah menjadi sahabat sejati bagimu. Sahabat yang akan menyertai saat sedih dan tawamu, senang dan susahmu, kaya dan miskinmu, bahagia dan sengsaramu. Insya Allah selama engkau berpegang teguh pada Allah dan Rosul-Nya aku akan setia di sisimu.

Suamiku…
Sebagai sahabat, mungkin aku bukan sahabat yang baik bagimu. Aku mungkin hanya menjadi ujian kesabaranmu, membebani pikiranmu dan memberatkan doa-doamu. Jadi bantulah aku memahami senyum dan tangismu, bantulah aku memaknai segala keinginan dan cita-citamu. Bantu pula aku memahami luapan emosiku, mengerti tawa, manja dan tangisku, memahami keinginan dan cita-citaku. Sahabat, bantu aku memerangi keegoan dan kelalaianku. Bantu aku mengenal diriku, mengenal Tuhanku. Bantu aku menjadi setegar Hajar, bantu aku menjadi sedewasa Khadijah, bantu aku menjadi sebijak ummu Sulaim, Bantu aku menjadi secerdas Aisyah.

Suamiku…. “kau adalah kehormatanku dan aku adalah kehormatanmu” motto itu yang selalu mengingatkan kita. Aku menyadari bahwa kaupun tidak setangguh Ibrahim, tidak sejujur Abu Bakar apalagi seagung Rosulullah. Namun dengan segenap kekurangan kita, cintalah yang menjadikannya sempurna. Semoga kita senantiasa saling memberi tanpa harus selalu menuntut.

Suamiku…
Perjalanan kita masih panjang, tantanganpun tidak semakin mudah, tanggung jawabpun tidak semakin ringan. Marilah kita saling membina, meneladani Lukmanul Hakim yang senantiasa menjaga aqidah anak-anaknya, meneladani Ibrahim yang ikhlas, dan meneladani Rasulullah yang penuh kasih sayang.

Suamiku…teman sejatiku. Kaulah yang akan menemani perjalanan fanaku di dunia dan Insya Allah di akhirat. Kita mulai kejayaan itu dari sini. Kita bangun pondasi aqidah yang kokoh, lindungi dengan tembok ilmu dan hiasi dengan akhlaq yang agung. Kita mulai kemuliaan islam dari pertemuan kita. Hari ini, esok dan hari-hari selanjutnya kita bekerja membangunnya, membangun benih peradaban, membangun keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah.

Ya Alloh…
Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan dan cinta kami kepada
Sunnah Rasul-Mu Muhammad SAW
Amin…

“ Maha suci Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya berpasang-pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi dan dari mereka sendiri, maupun dari apa yang mereka tidak ketahui “ (QS. Yasin : 36)
For My Lovely Husband ;)


Rabu, 18 November 2009

Senin, 10 Agustus 2009

" Bukan Penerimaan Tanpa Syarat "


Bukan Penerimaan Tanpa Syarat

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah : 216)

Mungkin dia tidak setampan nabi Yusuf, tidak juga sekaya nabi Sulaiman. Tapi aku melihatnya dari sisi yang berbeda yaitu keimanan, kesabaran, dan keikhlasannya dalam menghadapi serta menerima ketidaksempurnaan yang aku miliki telah menjadikan dia begitu sempurna di mata ku.

Bukankah setiap kita menyadari, bahwa Alloh tidak pernah menilai orang dari penampilan luarnya, tapi Alloh menilai pada hati manusia tersebut. Sekali lagi, bahwa penampilan fisik tidak akan pernah pantas untuk dijadikan takaran dalam menilai seseorang.

Sudah terlalu banyak orang berpenampilan keren, berwajah flamboyan, dan terkesan cerdas.. sementara akhlaknya sama sekali tidak mencerminkan keimanan yang dianutnya. Jadi adalah suatu kesalahan besar, jika dalam hati kita masih saja membanding-bandingkan seseorang dari kesempurnaan fisik, atau pun materi. Sebab, semua yang kita miliki di dunia ini adalah milik Alloh, jadi tidak ada yang pantas untuk di sombongkan.

Maka ketika aku memutuskan untuk menerima kehadiran nya, itu sama sekali bukanlah penerimaan tanpa syarat. Karena insyaAlloh, dia adalah seorang Imam sejati yang dikirimkan Alloh untuk membimbing ku. Dia adalah Cinta yang dikirim Alloh dari Surga,, yang selama ini ku tunggu kehadiran nya di sepanjang sujud sujud malam ku.

-0-

Rabu, 15 Juli 2009

Ai Shiteru


Dia datang dengan sederhana, namun menawarkan sebuah komitmen yang tidak sederhana.
Seseorang yang aku kenal sebelumnya tapi belum aku cinta. Meski begitu, aku merasa sudah sangat menghormatinya.
Waktu kian bergulir, seiring waktu dan kebersamaan.. aku merasakan sesuatu yang aku cari selama ini ada dalam dirinya. Hingga akhirnya, aku tak lagi merasakan hanya sekedar respect atau menghormati, tapi juga sedikit rasa yang.. aku tak bisa mengatakannya.
Seseorang yang kini ada dalam kehidupan ku untuk menuju masa depan yang gemilang..
Semoga Alloh menghimpunkan semua yg terserak diantara kami, dan menyatukannya dalam sebuah ikatan yang suci serta penuh rahmat.
Ya Alloh,, izinkanlah aku menyempurnakan setengah dari agama ku....

Kamis, 02 Juli 2009

Ada Yang Salah Dalam Diri Ku


Ada yang salah dalam diriku, tanpa pernah aku bermaksud demikian. Sesuatu yang mendera kuat tanpa bisa kukendali lagi. Menganggap dirinya begitu sempurna. Padahal Cinta manusia adalah cinta yang tidak abadi, dapat berubah oleh sebab dan akibat, yang pada saat tertentu dapat lenyap dan terputus. Namun ternyata, cinta manusia itu telah memakan diriku sendiri. Ibarat mengantar kertas ke dalam tungku perapian, aku terbakar, membakar diri sendiri.


Aku merasakan sakitnya. Kadang jiwaku goncang, kadang menggigil sendirian, sekuat tenaga kucoba menyelamatkan diriku dengan memohon pertolongan- Nya. Kini aku malu, Malu dengan kebodohanku. Seharusnya tak kubiarkan Cinta manusia itu membelenggu tubuhku, mencekik leherku, dan kini… sama artinya aku telah menggiring nyawa ke dalam nyala api yang berkobar, menempatkan diriku sendiri dalam neraka jahannam.


Astagfirullah, aku khilaf. Cinta ku kepada manusia telah melampaui Cinta ku kepada-Mu Ya Rabb … Tak semestinya aku menjadikannya sebagai tandingan-Mu.. Engkaulah Cinta yang sebenar - benarnya Cinta. Engkau tidak pernah meninggalkan ku meski aku kerap melupakan kehadiran-Mu. Cinta-Mu kepada ku tidak pernah berkurang sedikitpun walau tanpa sadar aku sering menjauh dari-Mu. Engkau tidak pernah marah dan membenci ku jika aku tidak mengingat-Mu..


Betapa aku tersadar, bahwa hanya Engkau-lah yang aku butuhkan untuk mencintai. Aku merasa harus lebih keras lagi dalam menasihati diriku sendiri agar tidak pernah lagi terjerumus dalam cinta manusia yang hanya akan menggiringku pada Cinta nafsu.. Nafsu untuk memiliki, nafsu untuk menguasai.. hingga melupakan-Nya “Sang Pencinta Sejati”


Semoga tulisan ku ini dapat memberi hikmah dan gambaran kepada teman – teman yang sedang dilanda asmara agar tetap menempatkan Dia sebagai cinta yang utama di atas cinta kepada manusia. Memaknai cinta dengan baik akan membawa kita menikmati hidup ini dengan wajar dan optimis.