
Ada yang salah dalam diriku, tanpa pernah aku bermaksud demikian. Sesuatu yang mendera kuat tanpa bisa kukendali lagi. Menganggap dirinya begitu sempurna. Padahal Cinta manusia adalah cinta yang tidak abadi, dapat berubah oleh sebab dan akibat, yang pada saat tertentu dapat lenyap dan terputus. Namun ternyata, cinta manusia itu telah memakan diriku sendiri. Ibarat mengantar kertas ke dalam tungku perapian, aku terbakar, membakar diri sendiri.
Aku merasakan sakitnya. Kadang jiwaku goncang, kadang menggigil sendirian, sekuat tenaga kucoba menyelamatkan diriku dengan memohon pertolongan- Nya. Kini aku malu, Malu dengan kebodohanku. Seharusnya tak kubiarkan Cinta manusia itu membelenggu tubuhku, mencekik leherku, dan kini… sama artinya aku telah menggiring nyawa ke dalam nyala api yang berkobar, menempatkan diriku sendiri dalam neraka jahannam.
Astagfirullah, aku khilaf. Cinta ku kepada manusia telah melampaui Cinta ku kepada-Mu Ya Rabb … Tak semestinya aku menjadikannya sebagai tandingan-Mu.. Engkaulah Cinta yang sebenar - benarnya Cinta. Engkau tidak pernah meninggalkan ku meski aku kerap melupakan kehadiran-Mu. Cinta-Mu kepada ku tidak pernah berkurang sedikitpun walau tanpa sadar aku sering menjauh dari-Mu. Engkau tidak pernah marah dan membenci ku jika aku tidak mengingat-Mu..
Betapa aku tersadar, bahwa hanya Engkau-lah yang aku butuhkan untuk mencintai. Aku merasa harus lebih keras lagi dalam menasihati diriku sendiri agar tidak pernah lagi terjerumus dalam cinta manusia yang hanya akan menggiringku pada Cinta nafsu.. Nafsu untuk memiliki, nafsu untuk menguasai.. hingga melupakan-Nya “Sang Pencinta Sejati”
Semoga tulisan ku ini dapat memberi hikmah dan gambaran kepada teman – teman yang sedang dilanda asmara agar tetap menempatkan Dia sebagai cinta yang utama di atas cinta kepada manusia. Memaknai cinta dengan baik akan membawa kita menikmati hidup ini dengan wajar dan optimis.